Jadi Rektor NU Siap Nggak di Gaji, PBNU Lantik 7 Rektor

Published by admin on

Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) melantik Tujuh rektor Universitas Nahdlatul Ulama di bawah naungan PBNU yang tersebar di wilayah Indonesia. Pelantikan dengan tujuan utama dalam rangka mengembangkan dan menjaga nilai-nilai luhur ajaran ahlussunnah wal jamaah (Aswaja) di Indonesia.

“Apakah Bapak-bapak siap menjalankan amanat dan mengembangkan ajaran Ahlussunnah wal Jamaah,” siappp, jawab tujuh rektor dengan kompak saat mengawali sumpah jabatan yang dipimpin Ketua Umum PBNU KH Said Aqil Siroj di Gedung PBNU Lantai 8, Jalan Kramat Raya 164, Jakarta, Senin (17/2).

Sejumlah pejabat dan tokoh ulama NU hadir menyertai pelantikann. Diantara tokoh tersebut adalah Ketua PBNU Hanif Saha Ghafur, Ketua Lembaga Perguruan Tinggi Nahdlatul Ulama (LPTNU) Mohamad Nasir, Ketua PBNU Umar Syah, Ketua PBNU Bidang hukum Robikin Emhas dan Ketua PWNU Jawa Timur KH Marzuki Mustamar serta ratusan pengurus dari berbagai cabang di Indonesia.   

Ditegaskan Kiai Said, bahwa kesiapan untuk mengabdi kepada NU itu penting, walaupun tidak di gaji. Meskipun kenyataannya tidak sesuai fakta. “Apakah Bapak-bapak sudah niat dengan sungguh-sungguh akan mengabdikan diri kepada UNU yang akan kita percayakan kepada Bapak-bapak?,” tanya Kiai Said.  

Mereka serempak menjawab kesanggupannya untuk mengemban amanah tersebut, memimpin lembaga pendidikan tinggi berlabel NU.  Setelah itu, mereka mengambil sumpah jabatan, berupaya memajukan dan membesarkan PTNU masing-masing dengan penuh tanggung jawab, menjunjung tinggi kehormatan Islam, bangsa, dan negara, serta bekerja dengan jujur tertib dan semangat. Sumpah tersebut diawali basmalah dan syahadat serta diakhiri dengan bacaan hauqalah.  

Tujuh PTNU tersebut memang baru berusia dini. Meskipun demikian, Kiai Said meyakini PTNU tersebut bakal menjadi benteng yang kokoh dalam menjaga peradaban dan kebudayaan.   Keyakinan tersebut didasari atas langkah NU yang berupaya mengharmoniskan agama dan budaya sebagai dua kekuatan langit dan bumi.  

“Inilah kekuatan kita,” kata Pengasuh Pondok Pesantren Al-Tsaqafah, Ciganjur, Jakarta Selatan itu.   Pasalnya, Timur Tengah hancur akibat konflik berkepanjangan yang disebabkan dari ketidakmampuan masyarakat mengharmoniskan kedua kutub tersebut.  

Adapun Tujuh rektor dan kampus yang dilantik adalah H Farid Wajdy sebagai rektor Universitas Nahdlatul Ulama (UNU) Kalimantan Timur masa khidmat 2019-2024, Rahmat Saputra sebagai rektor UNU Kalimantan Barat masa khidmat 2020-2025, Rohadi Abdul Hadi sebagai rektor UNU Purwokerto 2019-2024, H Fathul Anam sebahai rektor UNU Sidoarjo 2020-2025.

H Nusra sebagai rektor UNU Sumatera Barat masa khidmat 2019-2021, UNU Sulawesi Tenggara Nasruddin Suyuti 2019-2024, dan Hariadi sebagai rektor Institut Teknologi dan Sains Nahdlatul Ulama (ITSNU) Pekalongan masa khidmat 2020-2024. (hud)

Source: quran.laduni.id

Categories: BeritaKolom Rektor

0 Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Mohon Maaf, tidak boleh klik kanan, content ini terlindungi !!